Sunday, January 28, 2018

Tagged under: ,

Dasar Analisa Fundamental

1. Current Ratio ( Rasio Lancar)


Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki,


Current Ratio dapat dihitung dengan rumus :

Current Ratio = Aktiva Lancar/utang Lancar

Contoh : Current Ratio Pada PT XYZ Medan adalah sebagai berikut ( dalam Rupiah ) :
Tahun 2005 : = 1,04
Tahun 2006 : = 1,05

Ini berarti bahwa kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar, untuk tahun 2005 adalah setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin oleh Aktiva lancar Rp. 1,04. untuk tahun 2006 adalah setiap hutang lancar Rp. 1 dijamin oleh Rp.1,05 aktiva lancar.

2. Rasio Solvabilitas
Rasio Hutang mengukur seberapa banyak perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio hutang 35%, menunjukan bahwa 35% asset perusahaan dibiayai oleh hutang. Hutang bisa berarti baik ataupun buruk. Pada saat suku bunga tinggi, perusahaan yang memiliki rasio hutang tinggi akan mengalami masalah keuangan. Sebaliknya, hutang yang tinggi pada saat ekonomi membaik akan mendorong fleksibilitas perusahaan melakukan ekspansi meningkatkan keuntungan. Kita harus jeli melihat tujuan, sebab dan akibat perusahaan berhutang. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas.

3. Rasio Profitabilitas
Margin Pendapatan Bersih - Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Margin Pendapatan Bersih semakin baik operasi suatu perusahaan. Sebagai contoh : apabila margin pendapatan bersih sebesar 30 persen, artinya setiap Rp 1000 penjualan di peroleh keuntungan bersih sebesar Rp 300.


a. Return On Assets (ROA)

Mengukur tingkat pengembalian investasi dibanding dengan total asset. Mengukur efisiensi bisnis dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba bersih .

Rumus untuk menghitung return on assets adalah :

ROA = Laba Bersih : Asset

Laba bersih adalah pendapatan setelah pajak . Hal ini dapat ditemukan pada laporan laba rugi .

analisis :

Return On Asset menunjukkan jumlah pendapatan yang diperoleh dari setiap rupiah asset yang dimiliki. Dengan demikian nilai-nilai yang lebih tinggi dari Return On Assets menunjukkan bahwa bisnis lebih menguntungkan . Rasio ini harus hanya digunakan untuk membandingkan perusahaan di industri yang sama. Alasan untuk ini adalah Perusahan yang memiliki ROA paling besar berarti menghasilkan pendapatan lebih baik dibandingkan dengan perusahaan lainnya . Kecenderungan peningkatan ROA menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan membaik . Sebaliknya, tren penurunan berarti bahwa profitabilitas memburuk.


b. Return On Equity (ROE)

Mengukur tingkat pengembalian investasi dibanding dengan total asset . Ini adalah ukuran dari profitabilitas investasi pemegang saham . Ini menunjukkan laba bersih sebagai persentase dari ekuitas pemegang saham .

Rumus untuk menghitung return on equity adalah :
ROE = Laba Bersih / Modal
Laba bersih adalah pendapatan laba setelah pajak penghasilan. Hal ini dapat ditemukan pada laporan laba rugi.

analisis :
Return on equity merupakan ukuran penting dari profitabilitas perusahaan . Nilai yang lebih tinggi umumnya makna yang menguntungkan bahwa perusahaan yang efisien dalam menghasilkan pendapatan investasi baru . juga memeriksa tren di ROE dari waktu ke waktu .


4. Rasio Investasi



a. PER

Price Earning Ratio (per) menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Semakin kecil PER, maka saham akan semakin dilirik pasar karena harganya termasuk murah. Per dihitung dengan satuan kali. PER adalah hasil dari harga saham saat ini dibagi dengan EPS (Earning per Share). EPS sendiri menggambarkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh pemegang saham per lembar saham.

Earning per Share
Bagian laba perusahaan yang dialokasikan untuk setiap saham yang beredar dari saham biasa. Laba per saham berfungsi sebagai indikator profitabilitas perusahaan.
rumus:
laba bersih – dividen pada saham preferen / rata-rata saham yang beredar

Saat menghitung, itu lebih akurat untuk menggunakan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar selama jangka pelaporan, karena jumlah saham yang beredar dapat berubah dari waktu ke waktu. Namun, sumber data kadang-kadang menyederhanakan perhitungan dengan menggunakan jumlah saham yang beredar pada akhir periode.


b. Deviden Payout Rasio

Rasio pembayaran dividen adalah jumlah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham relatif terhadap jumlah total laba bersih perusahaan. Jumlah yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham dipegang oleh perusahaan untuk pertumbuhan. Jumlah yang disimpan oleh perusahaan disebut saldo laba/laba ditahan.

Formula ini digunakan oleh kebanyakan investor ketika mempertimbangkan apakah akan berinvestasi dalam perusahaan yang menguntungkan yang membayar dividen (melihat historikal pembagian dividen sbg tolak ukur lanjutan)  versus perusahaan yang menguntungkan yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Dengan kata lain, formula ini memperhitungkan penghasilan tetap dibandingkan reinvestasi untuk kemungkinan laba masa depan, dengan asumsi perusahaan memiliki laba bersih.


rumus :

dividen payout ratio =   dividen dibagi Net income

c. Price to Book Value
Menggambarkan seberapa besar pasar menghargai book value (BV) suatu perusahaan. Semakin tinggi PBV berarti pasar percaya terhadap prospek perusahaan tsb. Sementara book value sendiri adalah rasio yang membagi total asset bersih  (asset-hutang) dengan total saham beredar.

Rumus :
BV = total asset bersih : jumlah saham beredar
PBV  = Harga saham : Book Value

YUK … NABUNG SAHAM …!!! 




0 komentar:

Post a Comment